Rabu, 13 Maret 2013

“Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi”


Makalah
Sistem Ekonomi Indonesia
“Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi”
Oleh


Nama                                                :           Apriana D.P. Laahana

Jurursan/Semester          :           Administrasi Bisnis/III

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2012
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan bimbingan-Nya,sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.
Makalah dengan judul “Tahapan Pertumbuhan-Perkembangan Sistem Ekonomi Indonesia” disusun sebagai tugas dari pada mata kuliah sistem ekonomi Indonesia.
Kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan pada penulisan ini.





Kupang, oktober 2012
Penulis









TAHAP-TAHAP PERTUMBUHAN EKONOMI

A.      Pendahuluan
Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dilihat dengan ukuran agregat yang biasanya diukur dengan pertumbuhan ekonomi. Meskipun bukan merupakan satu-satunya ukuran untuk menilai pertumbuhan ekonomi output suatu bangsa namun sering digunakan sebagai tolak ukur majunya suatu bangsa. Pendapatan nasional bukan hanya berguna untuk menilai perkembangan ekonomi suatu negara dari waktu ke waktu, tetapi juga membandingkan dengan negara lain. Selain itu dari pendapatan nasional selanjutnya dapat pula diperoleh turunannya seperti pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita.
Pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya mengalami peningkatan, salah satunya dibuktikan dengan ketergantungan penerimaan devisa pada minyak bumi semakin berkurang dan semakin berperannya sektor swasta. Beberapa faktor yang memungkinkan perekonomian Indonesia tumbuh pesat sepanjang kurun pembangunan jangka panjang pertama yang lalu, antara lain adalah keberhasilan merehabilitasi sarana dan prasarana pada masa pemulihan 1966-1968, termasuk reformasi dalam bidang perbankan dan penanaman modal. Meskipun sempat terganjal oleh dampak resesi dunia pada awal 1980-an, namun berkat kesigapan pemerintah meluncurkan berbagai kebijakan deregulatif berhasil memulihkan situasi yang didukung oleh kemantapan situasi pangan.

B.       Teori Pertumbuhan Ekonomi
Pada abad ke 19 banyak ahli ekonomi yang menganalisis dan membahas, serta mengemukakan teori-teori tentang pertumbuhan ekonomi, diantaranya Frederich List, Bruno Hilder Brand, Karl Bucher dan Walt Whitman Rostow.
v  Frederich List
Beliau adalah penganut paham Laisser Faire dan berpendapat bahwa sistem ini dapat menjamin alokasi sumber-sumber secara optimal tetapi proteksi terhadap industri-industri tetap diperlukan. Pertumbuhan ekonomi sebenarnya tergantung kepada peranan pemerintah, organisasi swasta, entrepreneur, dan kebudayaan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi hanya terjadi apabila dalam masyarakat terdapat kebebasan dalam organisasi politik dan kebebasan perseorangan. Menurutnya negara-negara yang   paling sedanglah yang paling cocok untuk industri, sebab pendapatan penduduk yang sedang merupakan pasara yang cukup, disamping sektor pertanian yang sudah efisien.
Sedangkan di daerah tropis paling cocok untuk pertanian, karena pada umumnya jumlah penduduk sangat padat. Pertanian belum begitu efisien dan persediaan sumber-sumber alam masih sangat sedikit. Disini yang terpenting adalah bahwa industri atau pabrik diperlukan untuk perkembangan ekonomi. Meskipun pada permulaannya diperlukan perlindungan. Ia menyusun tahap-tahap pembangunan ekonomi dimulai dari fase primitif biadab, beternak, pertanian, pabrik dan perdagangan.

v  Bruno Hilder Brand
Beliau adalah pengkritik Frederich List, mereka mengatakan bahawa perkembangan ekonomi bukan berasal dari sifat-sifat produksi atau konsumsinya, tetapi lebih ditekankan pada metode distribusi yang digunakan. Ia mengemukakan 3 sistem distribusi, yaitu:
1)        Natural atau perekonomian barter
2)        Perekonomian uang
3)        Perekonomian kredit
Sayangnya Bruno Hilder Brand tidak mengemukakan bagaimana fase-fase tersebut berkembang menuju fase berikutnya.

v  Karl Bucher
Ia berpendapat serupa denga Bruno walaupun tidak sama. Karl mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah melalui 3 tingkat, yaitu:
1)        Produksi untuk kebutuhan sendiri
2)        Perekonomian kota, dimana pertukaran sudh meluas
3)        Perekonomian nasional dimana peranan pedagang-pedagang makin penting. Jadi barang-barang itu diproduksi untuk pasar (merupakan gambaran evolusi Jerman

v  Walt Whitman Rostow
W. W. Rostow dalam bukunya “The Stages of Economic Growth” mengemukakan bahwa proses pertumbuhan ekonomi dapat dibedakan dalam lima tahap dan setiap negara di dunia dapat digolongkan ke dalam salah satu tahap dari lima tahap pertumbuhan ekonomi tersebut yang sesuai dengan ciri-ciri perubahan keadaan ekonomi, politik dan sosial serta transportasi suatu masyarakat tradisional menjadi suatu masyarakat modern, tahap-tahap itu adalah:

1.    Tahap Masyarakat Tradisional (the traditional society)
·           Struktur fungsi produksi yang terbatas, cara-cara produksi yang relatif primitif, dan sikap masyarakat serta cara hidupnya yang sangat dipengaruhim oleh nilai-nilai yang dicetuskan oleh cara pemikiran yang bukan rasional, tetapi oleh kebiasaan yang telah berlaku secara turun temurun.
·           Tingkaat produksi perkapita dan tingkat produktivitas pekerja masih sangat terbatas.
·           Kegiatan politik dan pemerintahan terdapat di daerah-daerah dan dipegang oleh tuan-tuan tanah yang berkuasa.

2.    Tahap Prasyarat Lepas Landas (the precondition for take off)
Tahap prasyarat untuk lepas landas adalah suatu masa transisi pada saaat masyarakat mempersiapkan dirinya, ataupun dipersiapkan dri luar untuk mencapai pertumbuhan yan mempunyai kekuatan untuk terus berkembang (self-sustain growth) setelah itu pertumbuhan ekonomi akan berlaku secara otomatis. Dalam tahap ini ia memberikan dua prasyarat yaitu:
·           Tahap prasayarat untuk lepas landas dicapai oleh negara-negara Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika yang dilakukan dengan merubah struktru masyarakat tradisional yang sudah ada
·           Bom Free, yaitu prasyarat lepas landas yang dicapai oleh Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Selandia Baru, dengan tanpa harus merombak sistem masyarakat tradisional yang ada, karena masyarakat negara-negara itu terdiri dari emigran yang telah mempunyai sifat-sifat yang diperlukan oleh masyarakat untuk mencapai tahap prasyarat lepas landas.

Pembangunan ekonomi ini akan tercapai apabila diikuti oleh perubahan-perubahan lain dalam masyarakat yaitu:
a.         Pembangunan fasilitas/prasaran umum terutama di bidang transportasi
b.        Revolusi teknik dibidang pertanian karena banyaknya orang-orang yang pindah ke kota-kota
c.         Perluasan impor yang dibiayai oleh hasil produksi sumber-sumber alam yang ada
d.        Terjadinya saving, meningkatnya tingkatan pendidikan dan keterampilan, sikap masyarakat terhadap pekembangan ilmu pnegetahuan serta sikap pengambilan resiko dalam bekerja
e.         Munculnya kepemimpinan baru yang mempunyai sifat nasionalisme yang reaktif, yaitu bereaksi secara positif atas tekanan-tekanan yang datang dari negara-negara yang lebih maju.

3.    Tahap Lepas Landas (take off)
Tahap ini merupakan tahap interval dimana tahap masyarakat tradisional dan tahap prasyarat untuk lepas landas telah dilewati. Pada periode ini beberapa penghalang petumbuhan dihilangkan dan kekuatan-kekuatan yang menimbulkan kemajuan ekonomi diperluas dan dikembangkan serta mendominasi masyarakat sehingga menyebabkan efektivitas investasi dan meningkatnya tabungan masyarakat. Ciri-cirinya yaitu:
ü  Adanya kenaikan dalam penanaman modal investasi (yang produktif dari 5% atau kurang menjadi 10% dari Produk Nasional Bruto/NNP(Net National Product = NNP) NNP = GNP D (penyusutan)
ü  Adanya perkembangan beberapa sektor industri dengan laju perkembangan yang tinggi
ü  Adanya suatu kerangka dasar politik, sosial dan instutisional yang akan menciptakan (1) kenyataan yang memperluas sektor modern, (2) potensi ekonomi ekstern sehingga menyebabkan pertumbuhan secara terus-menerus berlangsung

Sifat-sifat perubahan dari berbagai jenis kegiatan ekonomi didalam tahap-tahap lepas landas digolongkan atas tiga sektor pertumbuhan, yaitu:
·           Sektor pertumbuhan primer, yaitu sektor-sektor atau kegiatan ekonomi yang menciptakan pertumbuhan yang pesat dan menciptakan kekuatan ekspansi ke berbagai sektor dalam kegiatan perekonomian
·           Sektor pertumbuhan suplementer, yaitu sektor yang berkembang dengan cepat sebagai akibat langsung dari perkembangan di sektor pertumbuhan primer
·           Sektor pertumbuhan terkait yaitu sektor atau kegiatan ekonomi yang berkembang sejalan dengan kenaikan pendapatan penduduk dan produksi sektor pertanian.

4.    Gerakan ke Arah Kedewasaan (the drive of maturity)
Gerakan ke arah kedewasaan diartikan sebagai suatu periode ketika masyarakat secara efektif menerapkan teknologi modern dalam mengelolah sebahan besar faktor-faktor produksi dan kekayaan alamnya. Kedewasaan adalah tingkat dimana suatu industri perekonomian menunjukan kapasitas untuk bergerak melampaui industri-industri dasar yang telah memberikan kekuatan kepada periode take off untuk mengabsorsir serta menerapkan secara efisien hasil perkembangan teknologi modern. Ciri-ciri gerakan ke arah kedewasaan yaitu:
a.         Kematangan teknologi dimana struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan
b.        Sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan
c.         Masyarakat serta keseluruhan merasa bosan dengan keajaiban yang diciptakan oleh industrialisasi, karena berlakunya hukum kegunaan batas semakin berkurang.

5.    Masa Konsumsi Tinggi (The age of high mass comsumption)
Pada masa ini perhatian masyarakat mengarah kepada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat dan bukan lagi kepada masalah produksi, dimana lebih bergerak kepada barang-barang yang tahan lama serta jasa-jasa. Pada periode ini terdapat tiga macam tujuan masyarakat untuk mendapatkan sumber-sumber daya yang tersedia dan dukungan politisi yaitu:

a.         Memperbesar kekuasaan dan pengaruh negara tersebut ke luar negri dan kecenderungan ini dapat berakhir pada penaklukan atas negara-negara lain
b.        Menciptakan suatu welfare state, yaitu kemakmuran yang lebih merata kepada pendukungnya dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem perpajakan yang progresif
c.         Mempertinggi tingkat konsumsi masyarakat di atas konsumsi dasar yang sederhana atas makanan.

Tahapan pembangunan yang digambarkan oleh Rostow adalah sistem pentahapan dimana suatu tahapan tidak mungkin terjadi tanpa melalui tahapan yang lain. Artinya tahapan kedua tidak mungkin terjadi tanpa tahapan pertama, tahap ketiga tidak akan terjadi tanpa tahap kedua, dan seterusnya. Namun kenyataannya ada negara yang tidak pernah melewati tahap pertama dari teori pertumbuhan eknomi Rostow, tetapi langsung ke tahap kedua, misalnya Amerika Seirkat dan Australia karena penduduknya adalah orang-orang Eropa yang kemudian mentransfer ilmu pengetahuan ke benua tersebut.

v  Simon Kuznets
Teorinya muncul atas kritikan terhadap teori Rostow, yaitu: “bagaimana mungkin suatu desain sederhana dapat menjadi suatu rangkuman deskriptif atau klasifikasi analitif dari suatu perubahan historis yang beragam dan berfariasi?”. Kuznets juga mencatat kemiripan dan perbedaan teori Rostow dengan tori Karl Marx. Kesamaan teori Rostow dan Marx antara lain:
1.        Kedua teori menginterpretasikan evolusi sosial khususnya sektor ekonomi
2.        Kedua ekonomi tersebut telah mencoba mengeksploitasi permasalahan dan konsekuensi dari pembangunan sosial yang dilakukan
3.        Keduanya menyadari bahwa perubahan sistem ekonomi pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari perubahan yang terjadi di bidang politik, sosial dan kebudayaan.

C.      Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Indonesia telah memperoleh banyak pengalaman politik dan ekonomi sejak kemerdekaan sampai sekarang, peralihan dari masa orde lama ke orde baru ini memberikan iklim politik yang dinamis, apalagi ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan, berikut merupakan penjelasannya

1.      Masa Orde Lama (1945 – 1966)
Pada masa ini perekonomian berkembang kurang menggembirakan, sebagai dampak ketidakstabilan kehidupan politik dan seringnya pergantian kabinet. Pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan yang sangat drastis sebesar 5%, dari 6,9% hingga 1,9%, sementara itu defisit anggaran belanja pemerintah terus meningkat dari tahun ke tahun dalam membiayai pencetakan uang baru, sehingga tingkat harga terus membumbung dan mencapai puncaknya pada tahun 1966.
Perilaku kenaikan harga secara agresif sudah terlihat dari tahun 1955, ketika itu laju inflasi naik 33% dan terus meningkat bahkan pada akhir kekuasaan orde lama laju inflasi mencapai 650%.

2.      Masa Orde Baru (1966 - 1997)
Pada masa peralihan orde lama ke orde baru, ditandai dengan kondisi perekonomian yang tidak menentu, antara lain:

·       Ketidakmampuan pemerintah untuk memenuhi kewajiban utang luar negeri kurang lebih sebesar US $ 2 miliar
·       Penerimaan devisa ekspor hanya setengah dari pegeluaran untuk impor barang dan jasa
·       Ketidakmampuan pemerintah mengendalikan anggaran belanja dan memungut pajak
·       Percepatan laju inflasi mencapai 30 – 40 % perbulan
·       Buruknya kondisi prasarana perekonomian serta penurunan kapasitas produksi sektor industri dan ekspor

Menghadapi keadaan perekonomian yang demikian pemerintah menetapkan beberapa langkah prioritas kebijakan ekonomi yaitu dengan (1) memerangi inflasi, (2) mencukupkan stok cadangan bahan pangan, (3) merehabilitasi prasarana perekonomian, (4) meningkatkan ekspor, (5) menciptakan dan menyediakan lapangan kerja, (6) mengundang kembali investor asing. Selain itu pemerintah juga membuat program-program untuk memperbaiki keadaan perekonomian baik program yang bersifat jangka pendek maupun yang bersifat jangka panjang.
Pelaksanaan pembangunan senantiasa diarahkan pada pencapaian tiga sasaran pembangunan yang dikenal dengan sebutan “Trilogi Pembangunan” yang meliputi stabilitas perekonomian, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan hasil-hasil pembangunan. Awalnya tindakan ini berhasil, hal ini ditandai dengan pencanangan era pembangunan ekonomi tinggal landas dimana sektor pertanian  yang semula memberikan sumbangan terbesar terhadap PDB digantikan oleh sektor idustri pengolahan. Sayangnya industri ini malah lebih banyak bergerak pada substitusi impor sehingga bahan baku penolong dipasok ke negara lain dan pengolahan industri ini dianggap menjadi penghambur devisa padahal semula diandalkan sebagai penghasil devisa.
Hal ini mengakibatkan kemerosotan ekonomi dimana adanya ketergantungan yang sangat tinggi terhadap input import sehingga terjadilah defisit transaksi terhadap neraca berjalan. Selain itu industri substitusi impor ini telah membawa perekonomian Indonesia menjadi rentan terhadap perubahan kurs mata uang dan tingkat suku bunga uang luar negeri. Apa yang terjadi pada tahap ini adalah sama dengan tahap ktiga dari Rostow yaitu tahap lepas landas namun kita terpeleset dan perekonomian kita terpuruk karena ternyata dasar fundamental ekonomi makro kita tidak kuat.

3.      Masa Reformasi (1998 - Sekarang)
Pada masa reformasi ini perekonomian Indonesia ditandai denga krisis  moneter yang berlanjut menadi krisis ekonomi yang sampai saat ini belim menunjukan tanda-tanda ke arah pemulihan. Walaupun ada pertumbuhan ekonomi, namun laju inflasi masih cukup tinggi, sehingga dikatakan negatif karena sama sekali tidak mengalami pertumbuhan malah semakin menurun.
Tahun 1999 laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia diperkirakan telah menjadi positif hal ini ditunjukan berdasarkan perhitungan PDB dan juga perkapita income dan dollar. Jadi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi harus ada koordinasi dan pendekatan konsentrasi antar institusi pemerintah.

D.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari permasalahn kesenjangan dalam pengelolaan perekonomian, dimana para pemilil modal besar selalu mendapatkan kesemptan yang lebih luas dibandingkan dengan para pengusaha kecil dan menengah yang serba kekurangan modal. Disamping itu akses untuk mendapatkan bantuan modal ke perbankan juga lebih memihak kepada para pengusaha besar dibandingkan dengan pengusaha ekonomi lemah.
Disamping itu pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional juga memberikan dampak yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. ketidakpastian perekonomian dan perdagangan dunia yang semakn meningkat meyebabkan kemungkinan-kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang kurang menggembirakan bagi bangsa Indonesia. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum adalah:

Ø  Faktor produksi, yaitu harus mampu memanfaatkan tenaga kerja yang ada, dan penggunaan bahan baku industri dalam negeri semakin mahal
Ø  Faktor investasi, yaitu dengan membuat kebijakan investasi yang tidak rumit dan berpihak pada dasar
Ø  Faktor perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran, harus surplus sehinga mampu meningkatkan cadangan devisa dan menstabilakan nilai rupiah
Ø  Faktor kebijakan moneter dan inflasi, yaitu kebijakan terhadap nilai tukar rupiah dan tingkat suku bunga ini juga harus antisipatif dan dapat diterima pasar
Ø  Faktor keuangan negara, yaitu berupa kebijakan fiskal yang konstruktif dan mampu membiayai pengeluaran pemerintah (tidak defisit)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar